KUALA TUNGKAL (AWaSI.id), 29,JULI,2026.Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Anwar Sadat, mengajak para nelayan untuk semakin memahami informasi cuaca dan kondisi perairan sebelum melaut. Menurutnya, pengetahuan tentang cuaca bukan hanya menyangkut keselamatan, tetapi juga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas nelayan.

Hal tersebut disampaikan Anwar Sadat saat menghadiri kegiatan Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN) di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Kegiatan tersebut diikuti puluhan nelayan setempat.

Anwar Sadat mengatakan, melalui SLCN, pola pikir nelayan diharapkan mengalami perubahan. Nelayan tidak lagi hanya berangkat ke laut dengan tujuan mencari ikan, tetapi mampu merencanakan aktivitas melaut berdasarkan informasi cuaca dan kondisi perairan.

“Melalui SLCN ini, kita ingin mengubah paradigma dan mentalitas nelayan dari yang semula berprinsip melaut mencari ikan menjadi melaut menangkap ikan. Dengan memanfaatkan informasi cuaca, efisiensi dan keselamatan nelayan akan jauh lebih terjamin,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, para nelayan mendapatkan pembekalan mengenai cara membaca informasi cuaca, navigasi, serta kondisi perairan secara mandiri. Pengetahuan itu diharapkan dapat membantu nelayan menentukan waktu dan kondisi yang tepat sebelum memutuskan untuk melaut.

Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program yang berorientasi pada peningkatan keselamatan, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Saya minta seluruh peserta menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Komunitas nelayan harus sadar cuaca dan aktif berbagi informasi resmi dari BMKG agar kelompok nelayan di Tanjung Jabung Barat semakin tangguh dan mandiri,” kata Anwar.

Salah seorang peserta SLCN, Abdullah, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari pelatihan tersebut. Selama ini, menurutnya, pemahaman nelayan mengenai kondisi alam dan cuaca di laut masih sebatas pengetahuan umum.

Namun, setelah mengikuti pelatihan, ia mengetahui bahwa terdapat berbagai indikator yang dapat digunakan untuk membaca potensi perubahan cuaca dan cuaca ekstrem.

“Bisa mengenal tanda-tanda alam sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Bisa menghemat bahan bakar juga kalau kita paham,” ujar Abdullah.

Data Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencatat jumlah nelayan tangkap di wilayah tersebut mencapai 3.234 jiwa, dengan potensi hasil tangkapan mencapai sekitar 20 ribu ton per tahun.

Dengan potensi tersebut, peningkatan kapasitas dan pemahaman nelayan terhadap informasi cuaca dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong sektor perikanan tangkap yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan di Tanjung Jabung Barat.

(L.R.cHANDRA)