AWASI.id, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli meluncurkan inisiatif strategis berbasis pemberdayaan bagi para mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan ekonomi lokal serta memberikan alternatif penghidupan yang berkelanjutan bagi mereka yang telah menyelesaikan kontrak kerja di luar negeri.
Sebanyak 60 purna pekerja migran dikumpulkan di Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon untuk mengikuti pelatihan komprehensif.
rogram ini memfasilitasi para peserta agar mampu mengonversi modal materi yang didapat dari luar negeri menjadi lini usaha produktif yang mandiri di kampung halaman.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa kurikulum pelatihan ini dirancang dari hulu ke hilir guna menjawab kecenderungan konsumtif yang kerap dihadapi purna migran.
Para peserta dibekali fundamental kewirausahaan, pemetaan peluang pasar lokal, penyusunan draf rencana bisnis (business plan), hingga manajemen keuangan dan digitalisasi pemasaran.
"Kami tidak hanya memberikan materi di kelas, tetapi juga berkomitmen menghadirkan pendampingan bisnis yang intensif pasca-pelatihan. Dengan asistensi dari para mentor berpengalaman, kami optimistis para purna PMI ini mampu membangun bisnis yang berdaya saing tinggi dan pada gilirannya dapat membuka lapangan kerja baru bagi komunitas sekitar," urai Dhanny dalam keterangan tertulisnya, Juni 2026.
Pemilihan Kabupaten Cirebon sebagai lokus program didasarkan pada data ketenagakerjaan yang krusial.
Berdasarkan statistik dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia per Desember 2025, Jawa Barat menjadi pemasok PMI terbesar di tingkat nasional dengan porsi mencapai 21,93 persen.
Pada lingkup regional, Kabupaten Cirebon bertengger di jajaran lima besar daerah asal migran, di mana grafik keberangkatannya melonjak hingga 15,51 persen pada tahun lalu.
Tingginya angka volatilitas tersebut menjadikan program reintergrasi ekonomi ini mendesak untuk dijalankan agar para purna migran tidak terjebak dalam siklus keberangkatan berulang akibat kegagalan finansial di tanah air.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Tanipa, purna migran asal Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, yang pernah mengadu nasib di Hong Kong, Bahrain, dan Singapura.
Ia mengaku materi validasi bisnis dan literasi keuangan yang didapatkan menjadi kompas baru untuk mengelola tabungannya selama merantau.
"Pelatihan dari BRI ini sangat membuka mata kami, terutama mengenai bagaimana memisahkan uang modal usaha dengan uang kebutuhan harian. Kami berharap program seperti ini terus diperluas agar semakin banyak mantan pekerja migran yang bisa sukses berwirausaha tanpa harus kembali ke luar negeri," pungkas Tanipa.***
